Ketika
belia, Corrie ten Boom (wanita Belanda yang banyak menyelamatkan kaum
Yahudi dari kekejaman Nazi) mendengar Sadhu Sundar Singh bersaksi.
Ketika kecil, Sadhu pernah membenci Yesus, membakar Alkitab, melempari
misionaris dengan lumpur. Ia meminta Tuhan menampakkan diri jika Dia
memang ada. Sadhu ingin tahu apa benar ada surga dan kehidupan setelah
mati. Untuk membuktikannya, ia berpikir harus mati dulu. Maka, ia
berencana menabrakkan diri pada kereta api yang melaju. Tiba-tiba cahaya
menyilaukan melingkupinya. Dan, seorang laki-laki bertanya, sampai
kapan ia akan menyangkal Tuhan yang telah mati baginya. Sadhu melihat
lubang di tangan laki-laki itu.
Mendengar kesaksian itu, Corrie
ingin mengalaminya juga, agar hidupnya mengiring Tuhan tak
”membosankan”. Namun, saat Corrie menyampaikan hal ini, Sadhu menjawab
bahwa sesungguhnya pengalaman Corrie lebih ajaib dibanding
pengalamannya: ”Saya harus melihat Yesus supaya bisa percaya, sedangkan
Anda sudah memercayai Dia tanpa harus melihat.”
Kata Yesus kepada Tomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau
percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”
(Yohanes 20:29). Sedikit murid bisa bertemu Yesus secara langsung.
Namun, lebih banyak yang tak bertemu langsung. Itu sebabnya teguran
Yesus kepada Tomas mewakili setiap kita yang belum pernah melihat Tuhan
kasatmata. Tuhan menegaskan bahwa bukan itu yang terpenting. Melainkan,
apakah kita sungguh bersuka karena Tuhan kita ada dan hidup. Dan, secara
pribadi mengalami bagaimana Dia hadir serta dekat dengan kita—dalam
peristiwa besar maupun kecil di hidup kita
Ditulis oleh Agustina Wijayani
RENUNGANHARIAN.NET
Ketika
belia, Corrie ten Boom (wanita Belanda yang banyak menyelamatkan kaum
Yahudi dari kekejaman Nazi) mendengar Sadhu Sundar Singh bersaksi.
Ketika kecil, Sadhu pernah membenci Yesus, membakar Alkitab, melempari
misionaris dengan lumpur. Ia meminta Tuhan menampakkan diri jika Dia
memang ada. Sadhu ingin tahu apa benar ada surga dan kehidupan setelah
mati. Untuk membuktikannya, ia berpikir harus mati dulu. Maka, ia
berencana menabrakkan diri pada kereta api yang melaju. Tiba-tiba cahaya
menyilaukan melingkupinya. Dan, seorang laki-laki bertanya, sampai
kapan ia akan menyangkal Tuhan yang telah mati baginya. Sadhu melihat
lubang di tangan laki-laki itu.
Mendengar kesaksian itu, Corrie
ingin mengalaminya juga, agar hidupnya mengiring Tuhan tak
”membosankan”. Namun, saat Corrie menyampaikan hal ini, Sadhu menjawab
bahwa sesungguhnya pengalaman Corrie lebih ajaib dibanding
pengalamannya: ”Saya harus melihat Yesus supaya bisa percaya, sedangkan
Anda sudah memercayai Dia tanpa harus melihat.”
Kata Yesus kepada Tomas: ”Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau
percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”
(Yohanes 20:29). Sedikit murid bisa bertemu Yesus secara langsung.
Namun, lebih banyak yang tak bertemu langsung. Itu sebabnya teguran
Yesus kepada Tomas mewakili setiap kita yang belum pernah melihat Tuhan
kasatmata. Tuhan menegaskan bahwa bukan itu yang terpenting. Melainkan,
apakah kita sungguh bersuka karena Tuhan kita ada dan hidup. Dan, secara
pribadi mengalami bagaimana Dia hadir serta dekat dengan kita—dalam
peristiwa besar maupun kecil di hidup kita
Ditulis oleh Agustina Wijayani
RENUNGANHARIAN.NET










Tidak ada komentar:
Posting Komentar